Bentuk-bentuk Kegiatan Kokurikuler baerdasarkan KMA 1503 - Berbagi Ilmu

Berbagi Ilmu

Bentuk-bentuk Kegiatan Kokurikuler baerdasarkan KMA 1503

Bentuk-Bentuk Kegiatan Kokurikuler di Sekolah/Madrasah

Kokurikuler Bukan Sekadar Tambahan, tapi Penguat Karakter Murid

Kokurikuler yang dirancang dengan tepat mampu menjadi ruang belajar bermakna untuk menumbuhkan karakter, kolaborasi, dan kepedulian murid terhadap diri, lingkungan, serta nilai-nilai kehidupan. Lalu, bentuk kegiatan kokurikuler apa saja yang dapat dikembangkan agar benar-benar berdampak?

Bentuk-Bentuk Kegiatan Kokurikuler di Sekolah/Madrasah

Kegiatan kokurikuler dalam panduan ini diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk yang dapat dipilih dan dikembangkan oleh sekolah/madrasah sesuai dengan karakteristik murid, konteks satuan pendidikan, serta kebutuhan penguatan profil lulusan.

Pada satuan RA, kegiatan kokurikuler dapat diintegrasikan dengan kegiatan intrakurikuler atau diberikan tema dan alokasi waktu tersendiri, selama tujuan dan hasil pembelajaran tetap diarahkan untuk memperkuat 8 (delapan) dimensi profil lulusan dan topik panca cinta. Integrasi ini sejalan dengan karakteristik pembelajaran RA yang bersifat holistik dan berpusat pada perkembangan anak.

Secara umum, terdapat empat bentuk utama kegiatan kokurikuler yang dapat dikembangkan oleh sekolah/madrasah, yaitu sebagai berikut.


1. Kokurikuler melalui Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu

Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin merupakan kegiatan kokurikuler yang mengintegrasikan dua atau lebih mata pelajaran atau muatan pembelajaran dalam satu tema yang relevan dengan kehidupan nyata murid. Tujuan kegiatan ini adalah membantu murid melihat keterkaitan antarilmu sebagai upaya mengembangkan dimensi profil lulusan dan topik panca cinta, sekaligus memperdalam pemahaman melalui pengalaman belajar yang kontekstual.

Tema yang digunakan ditentukan oleh sekolah/madrasah berdasarkan hasil analisis potensi dan kebutuhan satuan pendidikan serta dimensi profil lulusan yang perlu ditingkatkan. Pada satuan RA, lintas disiplin ilmu dapat dipahami sebagai lintas aspek perkembangan sebagaimana tercermin dalam elemen capaian pembelajaran RA.

Contoh praktik baik dapat dilihat pada Madrasah Al-Hikmah yang mengembangkan tema “Lingkunganku Sehat, Aku Kuat” untuk memperkuat dimensi kesehatan, penalaran kritis, dan kolaborasi, serta topik panca cinta yaitu cinta lingkungan. Tema ini mengajak murid mengeksplorasi lingkungan sekitar, mengenali permasalahan kebersihan dan kesehatan, serta merancang kampanye lingkungan sehat melalui integrasi IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, Seni dan Budaya, serta Qur’an Hadis. Pendekatan ini terbukti memperkuat kesadaran ekoteologis murid sebagai landasan moral dan spiritual yang kokoh.


2. Kokurikuler melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH)

Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) merupakan kegiatan kokurikuler berbasis pembiasaan dan pembelajaran mendalam yang mengedepankan pembelajaran penuh kesadaran (meaningful learning), bermakna (mindful learning), dan menyenangkan (joyful learning).

Kegiatan kokurikuler G7KAIH berfokus pada pembentukan karakter murid melalui pembangunan kebiasaan positif yang dilakukan secara rutin, konsisten, dan terencana, dengan dukungan ekosistem pendidikan melalui Catur Pusat Pendidikan. Pada satuan RA, G7KAIH dapat diintegrasikan dengan intrakurikuler selama tema dan kegiatan selaras dengan kebiasaan yang dikembangkan.

G7KAIH juga terintegrasi dengan topik panca cinta, antara lain kebiasaan bangun pagi, berolahraga, makan sehat dan bergizi, serta tidur cepat untuk memperkuat cinta diri dan sesama; beribadah untuk memperkuat cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya; gemar belajar untuk memperkuat cinta ilmu; serta bermasyarakat untuk memperkuat cinta lingkungan dan cinta tanah air.

Kegiatan G7KAIH perlu memenuhi persyaratan, yaitu:
(1) memperkuat minimal satu dimensi profil lulusan dan topik panca cinta;
(2) memadukan aktivitas pembiasaan dengan pengolahan lanjut hasil catatan harian; dan
(3) asesmen dapat dikaitkan dengan satu atau lebih mata pelajaran yang relevan.


3. Kokurikuler melalui Kegiatan Kolaboratif Berbasis Cinta (KKBC)

Kegiatan Kolaboratif Berbasis Cinta (KKBC) merupakan kegiatan kokurikuler berupa pembiasaan dan keteladanan yang mengedepankan nilai-nilai panca cinta dalam wujud kegiatan yang dilakukan secara kolektif. Tujuan utamanya adalah menanamkan nilai spiritualitas, membentuk karakter, serta menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari murid.

Kegiatan ini dilakukan secara terstruktur dan kontekstual, bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menjadi bagian dari proses membangun kesadaran spiritual murid. Implementasi KKBC dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik harian, mingguan, bulanan, maupun tahunan, dengan fokus pada penguatan cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air.


4. Kokurikuler melalui Cara Lainnya

Bentuk kegiatan kokurikuler melalui “cara lainnya” mencakup kegiatan kokurikuler khas sekolah/madrasah yang berbasis konteks lokal, nilai-nilai khas lembaga, potensi murid, serta kekayaan sosial dan budaya di lingkungan sekitar. Sekolah/madrasah diberikan keleluasaan untuk mengembangkan bentuk kegiatan lain sepanjang memenuhi kriteria kokurikuler.

Contohnya antara lain kelas membatik, permainan tradisional, praktik bertani atau berkebun, kegiatan melaut, pagelaran seni, serta kegiatan berbasis nilai keislaman pada madrasah atau pesantren. Bentuk ini mengakui bahwa setiap sekolah/madrasah memiliki identitas dan kekuatan unik yang dapat diangkat sebagai sumber belajar bermakna.


Tabel Perbandingan Bentuk-Bentuk Kegiatan Kokurikuler

Bentuk Kokurikuler Karakteristik Utama Fokus Penguatan Contoh Implementasi
Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu Integrasi dua atau lebih mata pelajaran dalam satu tema kontekstual Pemahaman holistik, penalaran kritis, kolaborasi, dan keterkaitan antarilmu Tema “Lingkunganku Sehat, Aku Kuat” yang mengintegrasikan IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, Seni Budaya, dan Qur’an Hadis
Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) Berbasis pembiasaan dan pembelajaran mendalam dengan dukungan ekosistem Pembentukan karakter dan kebiasaan positif murid Jurnal kebiasaan harian, tantangan kelas, kampanye kebiasaan baik, aksi kolaboratif
Kegiatan Kolaboratif Berbasis Cinta (KKBC) Pembiasaan dan keteladanan nilai panca cinta secara kolektif Internalisasi nilai spiritual dan karakter Ibadah bersama, aksi sosial, kegiatan kepedulian lingkungan
Kokurikuler melalui Cara Lainnya Kegiatan khas sekolah/madrasah berbasis konteks lokal dan nilai lembaga Penguatan identitas, kearifan lokal, dan kreativitas murid Membatik, permainan tradisional, berkebun, pagelaran seni

Ayo Refleksikan dan Kembangkan Kokurikuler di Sekolah/Madrasah Anda

Sudahkah kegiatan kokurikuler di sekolah/madrasah Anda dirancang secara terencana, kolaboratif, dan berorientasi pada penguatan karakter murid?

Bagikan praktik baik, ide, atau tantangan yang Anda hadapi dalam mengembangkan kokurikuler di kolom komentar, dan mari saling belajar untuk menghadirkan kokurikuler yang lebih bermakna dan berdampak.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bentuk-bentuk Kegiatan Kokurikuler baerdasarkan KMA 1503 "

Posting Komentar