Integrasi Keislaman dalam Materi Pengukuran - Berbagi Ilmu

Berbagi Ilmu

Integrasi Keislaman dalam Materi Pengukuran


A. Pengertian Mengukur 

 Mengukur adalah membandingkan suatu besaran dengan sebuah satuan standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam setiap pengukuran kita harus selalu menggunakan alat ukur yang sesuai. Misalnya, Anda melakukan percobaan pengukuran tinggi dan berat badan. Dalam kegiatan tersebut Anda telah membandingkan tinggi dan berat badan dengan satuan pada alat ukur yang Anda gunakan. Pengukuran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. 

Untuk mengukur benda yang bentuknya tidak teratur, seperti volume zat cair dan volume sebuah benda padat, nilainya diperoleh melalui pengukuran langsung. Untuk mengukur benda yang bentuknya teratur, seperti luas persegi dan volume balok, nilainya dapat diperoleh melalui penghitungan dengan rumus (pengukuran tidak langsung).

B. Jenis Pengukuran 

Pada saat kita melakukan pengukuran suatu besaran, kita dapat melakukan dengan dua prosedur pengukuran yang berbeda. Prosedur yang kita gunakan dalam suatu pengukuran sangat tergantung pada obyek yang sedang kita ukur. Adapun prosedur pengukuran yang dapat digunakan dalam pengukuran adalah sebagai berikut:

1. Pengukuran Tunggal

Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan hanya satu kali terhadap satu obyek/benda kerja. Hasil pengukuran tunggal dapat dituliskan : 

 x = xo ± Δ x dengan Δ x = 0,5 . NST 

Keterangan : 

 xo = hasil pengukuran yang terbaca 

 ∆x = ketidakpastian mutlak 

 NST = Nilai Skala Terkecil pada skala alat ukur yang digunakan dalam pengukuran tersebut. 

Contoh 

Hasil pengukuran panjang balok besi adalah 5,6 cm (alat ukur yang digunakan adalah penggaris dg NST 0,1 cm), maka nilai ketidakpastian mutlak 

 Δ x = 0,5 . NST 

       = 0,5 . 0,1 

       = 0,05 

Sehingga hasil pengukuran dapat ditulis (5,60 ± 0,05) cm, yang artinya panjang balok besi sebenarnya adalah terletak antara 5,55 dan 5,65 cm.

2. Pengukuran berulang 

Pengukuran berulang adalah pengukuran yang dilakukan beberapa kali terhadap satu obyek/benda kerja atau terhadap beberapa obyek/benda kerja identik. Pengukuran berulang kita lakukan karena untuk sekali pengukuran hasil ukurnya belum dapat ditentukan karena setiap pengulangan pengukuran memperoleh hasil yang berbeda. Contoh : pada percobaan penentuan konstanta pegas, percobaan bandul sederhana, percobaan kesetaraan kalor listrik, dll. 

Hasil pengukuran berulang dapat dituliskan:







Contoh 

Didapat hasil pengukuran percobaan bandul harmonik sederhana:








Integrasi Keislaman

Allah SWT berfirman dalam Surah Al Qamar ayat 49 :

إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَٰهُ بِقَدَرٍ

Artinya : “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Q.S Al Qamar : 49) 

Ayat tersebut menunjukkan bahwa saat kita melakukan percobaan tentang semua gejala alam merupakan sunnatullah yang sudah mempunyai ukuran yang pasti dan hal ini merupakan sumber pengetahuan, terutama IPA. Sehingga saat kita belajar IPA sama halnya dengan mengkaji sunnatullah yang dapat membawa kita dalam meningkatkan iman dan takwa. 

 Sebagaimana juga dalam Firman Allah SWT dalam surah yang lain yaitu Surah Al Furqon Ayat 2:

ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُۥ تَقْدِيرًا

Artinya : “yang kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (Q.S Al Furqon : 2) 
Hal ini menunjukkan bahwa besaran-besaran yang ada di alam semesta merupakan ciptaan Allah SWT yang telah di tetapkan sesuai dengan ukuran-ukurannya. Allah SWT menciptakan keteraturan dalam alam semesta sehingga saat kita mengembangkan ilmu pengetahuan berarti juga menjalankan sunnatullah. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Integrasi Keislaman dalam Materi Pengukuran"

Posting Komentar