Berbagi Ilmu

Tebarkan Ilmu Walau Satu Kata
Jadilah Orang yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Batik Keren Murah Kualitas Terjamin

Melacak Kebenaran Isra Mi’raj dengan Teori Relativitas dan Teori Dimensi

Isra Mi’raj merupakan peristiwa fenomenal dan maha dahsyat sekaligus mengundang banyak pertanyaan, kajian, dan penelitian akan kebenarannya. Jika ukuran kebenarannya logika, tentu isra mi’raj ditanggapi sebagai hal konyol, bohong, dan gila. Betapa tidak, perjalanan Rasulullah SAW pulang pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dilanjutkan perjalanan melanglang buana melewati batas dimensi menuju Sidratul muntaha, secara logika mustahil ditempuh kurang dari semalam. Standar kebenaran logika inilah yang dijadikan sandaran oleh kaum musyrikin Makkah dan sebagian umat Islam yang rendah keimanannya. Maka pantas jika mereka menganggap kebenaran isra mi’raj yang disampaikan Rasulullah SAW sebagai lelucon, berita bohong dan gila. Bahkan sebagian umat islam berbalik murtad sesaat setelah mendengar berita ini.

Tapi bukankah ukuran kebenaran mutlak adalah agama yang bersumber dari wahyu? Yang landasannya bukan hanya dari logika tapi juga budi nurani yang merupakan puncak kesadaran manusia? Budi nurani yang merupakan puncak kesadaran manusia (iman) inilah yang menjadi landasan Abu Bakar R.A mempercayai sepenuhnya berita yang disampaikan Nabi Muhamad SAW.
Maka dari sudut pandang kebenaran agama inilah kita sebagai umat islam harus mempercayai isra mi’raj sebagai salah satu mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT untuk hamba terkasih-Nya Muhammad SAW. Tidak ada keraguan sedikitpun akan kebenarannya. Allah sendiri yang menjamin kebenarannya di dalam Al-Quran dan Hadits. Tapi bukan berarti kita mengesampingkan akal untuk memahami peristiwa ini. Bukankah Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk memikirkan semua ciptaan-Nya termasuk peristiwa Isra Mi’raj ini.

Tulisan berikut dibuat sebagai usaha penulis melacak kebenaran peristiwa Isra Mi’raj dari sudut pandang sains terkini. Tulisan ini sekali lagi nukan untuk membandingkan peristiwa mukjizat dengan ilmu pengetahuan, karena memang tidak bisa dibandingkan. Tulisan ini dibuat hanya untuk meyakinkan bahwa kalau ilmu pengetahuan manusia yang sangat sedikit dan terbatas saja mampu memahami peristiwa tersebut tentu tidak ada keraguan bagi Allah yang maha Kuasa untuk bisa melakukannya. Penulis menyadari terlalu dangkal ilmu yang penulis miliki terlebih sains dari waktu ke waktu terus berkembang. Bisa saja seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tulisan ini kemudian di lain waktu tidak relevan sama sekali. Tapi walaupun demikian, penulis sekali lagi meyakinkan bahwa tulisan ini sama sekali tidak akan merubah sedikit pun kebenaran Isra Mi’raj.

Kebenaran Isra Mi’raj dalam Al-quran dan Hadits

Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Ada sedikitnya enam pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi’raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi'raj. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab, dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Mayoritas ulama di Indonesia sendiri meyakini Isra Mi’raj jatuh pada tanggal 27 Rajab.

Terlepas dari silang pendapat para ulama tentang kapan terjadinya isra mi’raj, kebenaran isra mi’raj telah dijamin oleh Allah SWT melalui Firman-Nya dalam Surah Al-Israa’ ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda–tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Berdasarkan ayat di atas, ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati dan kemudian bisa dijadikan alasan untuk membenarkan peristiwa isra dan mi’raj.

Pertama, Allah memulai ungkapan-Nya dengan Subhâna (Maha Suci Allah), suatu ungkapan yang dalam ilmu bahasa Arab disebut ta’ajjubiyah (kekaguman). Ungkapan kekaguman sendiri biasanya digunakan untuk sesuatu yang luar biasa dan menakjubkan. Subhâna berasal dari kata sabaha yang berarti menjauh. Berenang dalam bahasa Arab juga disebut dengan kata sabaha, karena seorang yang berenang pada prinsipnya dia menjauh dari tempat pertama dia berada. Dengan demikian, subhâna berarti kita berupaya menjauhkan Tuhan dari segala bentuk kekurangan atau sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan, baik nama, sebutan, ucapan, gelar dan sebagainya. Kita menjauhkan Tuhan dari segala cacat, kekurangan dan kelemahan. Melalui Ayat ini Allah SWT hendak menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Peristiwa yang menurut akal mustahil, bagi Allah sangat mudah dilakukan. Bukankah Allah SWT zat yang Maha Kuasa?

Kedua, bahwa ayat di atas menggunakan kata asrâ yang merupakan kalimat fi’il madli muta’addi yang berarti memperjalankan. Oleh karena itu, Rasulullah saw tidak berjalan sendiri namun diperjalankan Allah swt. Jika Allah swt yang memperjalankan, tentu tidak terikat waktu dan ruang yang dikenal manusia, karena Allah sendiri tidak terikat ruang dan waktu dan berada di luar ruang dan waktu. Oleh karena itu, sangat mungkin perjalanan itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, bahkan lebih singkat dari waktu itu.

Logika sederhananya seperti ini, ada seekor semut yang bercerita kepada temannya, bahwa ia beberapa jam yang lalu pergi ke Jakarta dari Papua dan sekarang tiba kembali di Papua. Tentu saja temannya tidak percaya jika mengukurnya dengan kemampuan yang dimiliki seekor semut. Namun, kalau ia menjelaskan kepada temannya bahwa ia tidak berjalan sendiri, namun ketika itu berada di dalam kantong seseorang yang berangkat ke Jakarat dengan pesawat lalu dibawa lagi kembali ke Papua melalui cara yang sama, sepertinya temannya akan mempercayainya. Begitulah kira-kira peristiwa isra dan mi’raj yang dialami Rasullah saw.

Bukti kebenaran lain terlukis dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitabnya Hadits Shahih Muslim yang secara gamblang menjelaskan perjalanan malam Nabi dan diangkatnya ke langit untuk bertemu langsung dengan Allah SWT  dan kemudian menerima perintah kewajiban shalat lima waktu:

"...dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencapai ujungnya." Dia bersabda lagi: "Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis." Dia bersabda lagi: "Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan salat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar, tiba-tiba aku didatangi oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu, dan aku pun memilih susu. Lalu Jibril berkata, “Kamu telah memilih fitrah”. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril meminta agar dibukakan pintu, maka Jibril pun ditanya, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Jibril”. Lalu ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Jibril ditanya lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Maka dibukalah pintu untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam, dia menyambutku serta mendoakanku dengan kebaikan. Lalu aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril lalu minta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan lagi, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Jibril”. Jibril ditanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Jibril ditanya lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya, dia telah diutus”. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit ketiga. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Jibril”. Jibril ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf Alaihis Salam, ternyata dia telah dikaruniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawab, 'Jibril'. Jibril ditanya lagi, 'Siapakah bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad'. Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris Alaihis Salam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Allah berfirman: '(...dan kami telah mengangkat ke tempat yang tinggi darjatnya) '. Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawab, 'Jibril'. Jibril ditanya lagi, 'Siapakah bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad'. Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun Alaihissalam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawab, 'Jibril'. Jibril ditanya lagi, 'Siapakah bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad'. Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi, 'Siapakah kamu? ' Jibril menjawabnya, 'Jibril'. Jibril ditanya lagi, 'Siapakah bersamamu? ' Jibril menjawab, 'Muhammad'. Jibril ditanya lagi, 'Apakah dia telah diutuskan? ' Jibril menjawab, 'Ya, dia telah diutuskan'. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam, dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari bisa memasukkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitul Makmur). Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan." Dia bersabda: "Ketika dia menaikinya dengan perintah Allah, maka sidrah muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya karena indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepada dia dengan mewajibkan salat lima puluh waktu sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu Nabi Musa Alaihissalam, dia bertanya, 'Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? ' Dia bersabda: "Salat lima puluh waktu'. Nabi Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan menguji mereka'. Dia bersabda: "Aku kembali kepada Tuhan seraya berkata, 'Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku'. Lalu Allah subhanahu wata'ala. mengurangkan lima waktu salat dari dia'. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan berkata, 'Allah telah mengurangkan lima waktu salat dariku'. Nabi Musa berkata, 'Umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi'. Dia bersabda: "Aku masih saja bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa, sehingga Allah berfirman: 'Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan lima waktu sehari semalam. Setiap salat fardu dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh salat fardu. Begitu juga barangsiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barangsiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya'. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih saja berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan'. Aku menjawab, 'Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Tuhanku, sehingga menyebabkanku malu kepada-Nya'." — Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Isra' Rasulullah ke langit, hadits nomor 234.

Melacak Kebenaran Isra Mi’raj dengan Teori Relativitas dan Teori Dimensi

Perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW melewati dua tahap perjalanan yaitu Isra dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha dan mi’raj yaitu perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha.

Perjalanan Isra

Jika ditarik garis lurus dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina jarak kedua tempat tersebut sekitar 1500 Km. Jarak yang begitu jauh kala itu, mengingat belum ada alat transportasi super cepat seperti saat ini. Butuh sekitar delapan sampai sepuluh hari untuk melakukan perjalanan darat menggunakan unta. Jika menelaah hadis nabi yang lain yang menyebutkan bahwa ketika Rasulullah berangkat dari rumah beliau meninggalkan pembaringan, kemudian menuju ke Masjidil Haram, lalu melakukan  perjalanan Isra’ Mi’raj, ketika Rasulullah kembali lagi ke rumahnya, ternyata pembaringannya masih hangat.. Di hadis yang lain juga diceritakan, bahwa ketika Rasulullah meninggalkan rumahnya, beliau menyenggol tempat minumnya kemudian tumpah, dan ternyata ketika Rasulullah kembali lagi ke rumahnya, air dari tempat minum yang disenggolnya itu masih menetes. Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu beliau tidak lama meninggalkan rumahnya. Untuk keperluan perjalanan singkat itu Allah mengutus malaikat Jibril as (makhluk berdimensi 9) beserta malaikat lainnya sebagai pemandu. Dipilihnya malaikat sebagai pengiring perjalanan Rasulullah Saw dimaksudkan untuk mempermudah perjalanan melintasi ruang waktu.

Selain Jibril as dan kawan-kawan, dihadirkan juga kendaraan khusus bernama Buraq, makhluk berbadan cahaya dari alam malakut. Nama Buraq berasal dari kata barqun yang berarti kilat. Kita asumsikan bahwa perjalanan dari kota Makkah ke Palestina berkendaraan Buraq tersebut ditempuh dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 kilo meter per detik.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah bagaimana bisa Rasulullah Saw yang terbuat dari materi padat melakukan perjalanan dengan kecepatan cahaya? Seandainya badan bermateri padat seperti tubuh kita dipaksakan bergerak dengan kecepatan cahaya, bisa diduga apa yang akan terjadi. Badan kita mungkin akan tercerai-berai karena ikatan antar molekul dan atom bisa terlepas.

Jawaban yang paling mungkin untuk pertanyaan itu adalah tubuh Rasulullah Saw diubah susunan materinya menjadi cahaya. Bagaimanakah hal itu mungkin terjadi? Lagi-lagi kita mempertanyakan kekuasaan Allah. Bagi Allah gampang saja. Berdasarkan pengetahuan kita yang ada sekarang, teori yang memungkinkan untuk menjelaskan ini adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materinya. Dan jika materi direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bisa lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gamma.

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir bahwa jika partikel proton direaksikan dengan antiproton, atau elektron dengan positron (anti elektron), maka kedua pasangan tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gamma, dengan energi masing-masing 0,511 MeV (Multiexperiment Viewer) untuk pasangan partikel elektron, dan 938 MeV untuk pasangan partikel proton.

Sebaliknya apabila ada dua buah berkas sinar gamma dengan energi sebesar tersebut di atas dilewatkan melalui medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi 2 buah pasangan partikel tersebut di atas. Hal ini menunjukkan bahwa materi bisa dirubah menjadi cahaya dengan cara tertentu yang disebut annihilasi dan sebaliknya.

Nah, kalau dihitung jarak Mekkah – Palestina sekitar 1500 km ditempuh dengan kecepatan cahaya, maka hanya dibutuhkan waktu sekitar 0,005 detik dalam ukuran waktu kita di bumi. Sehingga perjalanan pulang pergi Rasulullah SAW kira-kira membutuhkan wktu sekitar 0,01 detik saja. Sesampainya di Palestina tubuh Rasulullah Saw dikembalikan menjadi materi. Peristiwa ini mungkin lebih dikenal seperti teleportasi dalam teori fisika kuantum.

Perjalanan Mi’raj

Setelah Rasulullah melakukan perjalanan isra, selanjutnya Rasulullah melanjutkan perjalanan Mi’raj yaitu perjalanan Nabi dari Masjidil Haram menuju Sidratul Muntaha melewati langit pertama, kedua, ketiga sampai langit ketujuh. Perjalanan Beliau bertemu dengan Allah SWT diceritakan oleh Allah SWT di dalam surat an-Najm 14-18:
(14) (yaitu) di Sidratul Muntaha. (15) Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (16) (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (17) Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (18) Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.

Berbeda dengan perjalanan isra, perjalanan mi’raj Nabi melewati ruang antar dimensi. Perjalanan mi’raj Nabi bukanlah perjalanan berjarak jauh atau pengembaraan angkasa luar, melainkan perjalanan menembus batas dimensi. Karena walaupun tubuh Rasulullah SAW diubah menjadi cahaya kemudian melakukan perjalanan mengarungi angkasa dengan kecepatan cahaya seperti perjalanan dari Mekkah ke Palestina, maka mustahil bisa ditempuh dalam waktu singkat. Bukankah untuk menempuh diameter alam semesta diperlukan 30 miliar tahun dengan menggunakan kecepatan cahaya? Lalu bagaimana caranya Allah SWT memerjalankan Rasulullah SAW menuju Sidratul Muntaha? Bisa saja Allah SWT menjadikan kecepatan Rasulullah SAW melebihi kecepatan cahaya, tapi tentu untuk menejelaskannya dari sudut pandang sains membutuhkan dasar yang telah disepakati. Mengingat hasil penelitian yang telah disepakati menunjukkan bahwa kecepatan cahaya merupakan kecepatan tertinggi saat ini, maka menjelaskan perjalanan mi’raj Nabi dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya kita kesampingankan terlebih dahulu. Teori yang lebih mungkin untuk menjelaskan hal ini adalah teori antar dimensi.


Berdasarkan teori superstring, alam semesta ini terdiri dari sepuluh dimensi dengan sembilan dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Para ahli beranggapan bahwa pada saat ledakan besar (Big Bang) yang dipercaya merupakan awal kejadian alam semesta, sembilan dimensi tersebut adalah sama dan identik. Namun dengan memuainya semesta, hanya tiga dimensi saja yang ikut berekspansi (memuai). Sementara, keenam dimensi yang lainnya tetap terpilin.

Ketiga dimensi ini ditambah dimensi waktu merupakan dimensi yang mengisi ruang dan waktu kita. Sementara keenam dimensi lainnya dipercaya dihuni oleh makhluk lain yang dimensinya lebih tinggi daripada manusia.

Kita hidup di alam yang dibatas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha.

Perjalanan Rasul melakukan Isra Mi’raj bukan sebuah mimpi karena Rasulullah dapat menjelaskan secara detil tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Selain itu perjalanan fisik Rasulullah merupakan pembuktian akan kemahakuasaan Allah SWT.  Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka.

Berdasarkan teori dimensi ini, posisi langit pertama dengan langit kedua, ketiga sampai ketujuh tidak bertumpuk seperti kue lapis. Lantas di manakah langit kedua? Langit kedua ternyata tidak nun jauh di sana, tetapi di sini juga. Langit kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ketujuh, Sidratul Muntaha surga dan neraka di sini juga. Kalau begitu perjalanan Mi’raj itu seperti apa? Perjalanan Rasulullah dari langit pertama ke langit kedua adalah dengan cara masuk ke dimensi yang lebih tinggi. Hilang dari sini kemudian sudah berada di dimensi yang lebih tinggi yang itu tempatnya di sini juga.

Seperti telah disebutkan di atas dalam penjelasan posisi antar dimensi bahwa posisi langit kedua dengan langit pertama dianalogikan seperti sebuah ruangan berdimensi 3 dengan dinding tembok berdimensi 2. Balok yang berdimensi 3 memiliki permukaan berdimensi 2 yakni bagian sisi-sisinya. Apabila si balok ingin memasuki alam berdimensi dua, dia cukup menempelkan bagian sisinya yang berdimensi 2 ke permukaan tembok. Bagian sisi balok sudah memasuki alam berdimensi 2 permukaan tembok. Bagian sisi balok ini dapat dilihat oleh makhluk bayang-bayang di tembok sebagai
makhluk berdimensi 2 juga. Analoginya adalah jin yang dilihat oleh kita penampakannya di alam dunia sebenarnya berdimensi 4 tetapi oleh indera kita dilihat sebagai makhluk berdimensi 3 seperti tampaknya sosok kita manusia. Sedangkan makhluk bayangan berdimensi 2 di tembok tidak bisa memasuki ruangan berdimensi 3, kecuali ada bantuan dari makhluk berdimensi lebih tinggi, minimal dari makhluk berdimensi 3, yakni balok. Caranya si balok menempelkan salah satu sisinya ke tembok dan makhluk bayangan menempelkan diri ke sisi balok itu. Dengan menempel di sisi balok dan mengikutinya, makhluk bayangan bisa memasuki ruang berdimensi 3 dan meninggalkan wilayah berdimensi 2, yakni dinding tembok.

Begitulah kira-kira analogi bagaimana Rasulullah Saw melakukan perjalanan antar dimensi. Dengan kehendak Allah Swt, Jibril yang merupakan makhluk berdimensi lebih tinggi dari manusia membawa Rasulullah Saw melakukan perjalanan dari langit pertama hingga langit ke tujuh lalu menuju ke Sidratul Muntaha. Perjalanan ini bukan perjalanan jauh seperti telah disebutkan tadi. Kejadian itu terjadi di tempat Rasulullah Saw terakhir duduk shalat di Masjidil Aqsa Palestina, karena ruang berdimensi 4, 5 dan seterusnya itu persis berada di sebelah kita, hanya kita tidak melihatnya dan tidak bisa mencapainya.

Wajar saja perjalanan Isra Miraj Rasulullah Saw dari Mekkah ke Palestina dan kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha hanya terjadi dalam semalam. Bayangkan dalam zaman ketika pemahaman manusia tentang sains dan teknologi belum seperti sekarang, seorang Abu Bakar Ash Shiddiq Ra. Sahabat yang suci bisa beriman dan menerima kebenaran cerita Rasulullan Saw tanpa sanggahan.

Begitu dekatnya jarak alam dunia (langit pertama) dengan alam akhirat (langit ketujuh) yang sangat dekat sudah digambarkan oleh hadist dari Jabir bin Abdullah. Ketika itu Rasulullah Saw didatangi oleh lelaki berwajah bersih dan berbaju putih (yang ternyata adalah malaikat Jibril as yang memasuki dimensi alam manusia) :

Bertanya orang itu lagi (yakni Jibril as), “Berapakah jaraknya dunia dengan akhirat?” Bersabda Rasulullah SAW, “Hanya sekejap mata saja.”

Wallahu ‘alam bishawwab

Sumber Referensi:
Setiawan, Sandi.1990. Theory of Everything. Andi Offset: Yogyakarta
Teori Kebenaran Kisah Perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad
http://mosleminfo.com/2013/06/05/isra-miraj-dalam-kacamata-sains-modern.html
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=13774
Buku Serial Diskusi Tasawwuf Modern “Terpesona di Sidratul Muntaha” oleh Agus Mustofa.
http://tendouku.files.wordpress.com/2008/12/enigma-wallpaper34.jpg

Lihat Juga Artikel Berikut!

Subhanallah! Semut pun Melakukan Thawaf




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Melacak Kebenaran Isra Mi’raj dengan Teori Relativitas dan Teori Dimensi"

Post a Comment