Mengembangkan Literasi Numerasi dalam Pembelajaran - Berbagi Ilmu

Berbagi Ilmu

Mengembangkan Literasi Numerasi dalam Pembelajaran

Pendahuluan

Apa itu Numerasi? 
Secara umum numerasi meliputi kecakapan dalam bilangan dan hitungan yang digunakan di dalam kehidupan sehari-hari meliputi:
1. bilangan;
2. penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian;
3. perkiraan;
4. pola dan probabilitas;
5. pecahan, desimal, prosentase, rasio dan rata-rata;
6. ruang dan bangun (geometri);
7. informasi statistik (bagan, tabel, dan data lainnya); dan
8. ukuran.

Numerasi Bagian dari Matematika?
Mempelajari numerasi juga berarti mempelajari matematika. Namun, terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara numerasi dan matematika seperti yang terdapat pada infografis di bawah ini:


Apa Itu Numerasi Lintas Kurikulum?
Untuk mengaplikasikan numerasi lintas kurikulum, guru sebagai ujung tombak pengajaran di sekolah sudah seharusnya dibekali dengan pelatihan literasi numerasi, baik itu bagi guru matematika maupun guru non-matematika untuk menjadi fasilitator bagi pengembangan dan penguatan kegiatan literasi di sekolah.
Keterampilan numerasi secara eksplisit diajarkan di dalam mata pelajaran matematika, tetapi siswa didorong untuk menggunakan unsur numerasi secara kontekstual pada pelajaran non-matematika. Menggunakan keterampilan numerasi lintas kurikulum dapat memperkaya pembelajaran bidang studi lain dan memberikan kontribusi dalam
memperluas dan memperdalam serta membantu pemahaman matematika secara umum.

Bagaimana Membangun Atmosfer Numerasi di Sekolah?
  1. Meningkatnya jumlah dan variasi bahan bacaan literasi numerasi, baik itu di perpustakaan, pojok baca dan majalah dinding.
  2. Meningkatnya jumlah kegiatan literasi numerasi di sekolah baik itu kegiatan intra, ko-kurikuler dan ekstra-kurikuler.
  3. Meningkatnya jumlah penyajian informasi dalam bentuk presentasi numerasi di lingkungan sekolah (contoh: bagan jumlah siswa laki-laki dan perempuan di kelas).

Bagaimana Metode untuk Mensimulasi Keterampilan Numerasi?

Hubungan Numerasi dengan imajinasi

Hubungan Numerasi dengan Logika

Hubungan Numerasi dan waktu

Numerasi sangat berkaitan erat dengan waktu. Bilangan dan operasional hitung yang menjadi inti numerasi menjadi bagian utama dari konsep waktu. Konsep waktu sangat luas dan tidak terbatas, namun tidak demikian di dalam kehidupan manusia yang relatif singkat dan terbatas. Oleh karena itu, keterampilan numerasi sangat diperlukan untuk mengelola waktu agar perencanaan, pengorganisiran, pelaksanaan, dan melakukan evaluasi terhadap produktivitas manusia. Waktu merupakan salah satu sumberdaya yang harus dikelola dengan baik, efektif dan efisien agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Dengan demikian, memiliki keterampilan numerasi bagi warga sekolah merupakan sesuatu yang mutlak, ia menjadi inti dari kecakapan untuk mengembangkan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler, termasuk pengembangan klub STEAM dan wirausaha yang akan dibahas selanjutnya.


Mengembangkan klub STEAM

Apa itu klub STEAM?

Memasuki Abad ke-21 dan Era Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan munculnya teknologi super komputer, artificial intelligence (AI), dan perangkat teknologi digital lainnya, membuat beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Tiongkok menekankan pembelajaran berbasis Science Technology Engineering Arts Mathematics (STEAM) atau sains teknologi teknik rekayasa seni matematika. Selain diintegrasikan ke dalam kurikulum pelajaran, mereka juga memperkenalkan klub STEAM sebagai kegiatan ekstrakurikuler untuk menguatkan keterampilan para siswa terutama pada disiplin ilmu sains, kriya, seni, dan matematika.
Di Indonesia, jargon STEAM belumlah populer walau di beberapa sekolah sudah menerapkan pembelajaran berbasis STEAM dan juga mengembangkan klub STEAM sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler pilihan bagi siswa. Banyak manfaat positif yang diperoleh dan dirasakan oleh para siswa yang menerapkan pembelajaran berbasis STEAM, antara lain lebih mudah memahami isi pelajaran, meningkatkan nalar kritis dan berpikir logis, bahkan mendorong siswa untuk menghasilkan karya ilmiah.
Saat ini, STEAM mulai dipromosikan di dalam dunia pendidikan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kompetensi siswa mempersiapkan diri di Abad ke-21 sekaligus juga sebagai wadah untuk mengekspresikan hobi dan minat mereka. Melalui pembelajaran berbasis STEAM, siswa dituntun untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu (invent), melakukan inovasi, membangun kemandirian, melek teknologi dan mampu menghubungkan keterampilan yang ia peroleh melalui STEAM dengan profesi yang akan digeluti di masa depan.

Pengembangan Klub Wirausaha

Mengapa wirausaha?
Menurut data yang dilansir oleh Biro Pusat Statistik (BPS), pengangguran di Indonesia mengalami penurunan dari angka 5,81% pada bulan Februari 2015 menjadi 5,33% pada Februari 2017. Meskipun menurun, namun proporsi pengangguran dari penduduk berpendidikan tinggi justru semakin meningkat. Pertambahan jumlah pengangguran tersebut disebabkan oleh peningkatan jumlah angkatan kerja di Indonesia. Pada bulan Agustus 2017, angka pengangguran bertambah 10.000 orang mejadi 7,04 juta. Ironisnya, mereka yang berpendidikan tinggi justru semakin kesulitan mencari lahan pekerjaan.
Yang menarik, berdasarkan hasil sensus BPS, angka pengangguran di kota jauh lebih tinggi dari pada di desa. Berdasarkan data BPS, pengangguran di perkotaan pada Februari 2018 mencapai 6,34%, sementara pengangguran di desa hanya 3,72%. Hal ini ditengarai oleh beragam faktor, di antaranya arus urbanisasi yang kerap terjadi pada beberapa waktu tertentu, sehingga angka pengangguran di perkotaan jauh lebih besar. Persepsi bahwa di kota masih tersedia lahan pekerjaan selain fasilitas dan infrastruktur yang lebih baik ketimbang pedesaan menjadi salah satu faktor pertimbangan tingginya urbanisasi.
Lalu, bagaimana mengatasi isyu pengangguran yang semakin mendesak saat ini? Di banyak negara maju, wirausaha menjadi salah satu kunci untuk mengatasi masalah pengangguran dan distribusi ekonomi. Kewirausahaaan menjadi alternatif terbaik untuk menurunkan angka kemiskinan dengan mendorong seorang individu untuk mengerahkan potensi, kreativitas, dan sumberdaya yang dimilikinya. Dengan kewirausahaan, seorang individu dapat menciptakan dan mengembangkan ide dan mewujudkannya ke dalam sebuah produk dan akan memiliki nilai jual yang lebih jika produknya inovatif.
Menjadi wirausahawan berarti menjadi seseorang yang mandiri, percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, mampu mengukur dan mengantisipasi risiko dan dampak, kepemimpinan yang lugas, kreatif menghasilkan inovasi, serta berorientasi pada masa depan. Jadi, wirausaha merupakan pilihan yang tepat untuk dijadikan sebagai sebuah profesi sekaligus membangun kemandirian individu, komunitas, dan bangsa.

Menumbuhkan atmosfer kewirausahaan

Idealnya jika ingin membuat negara makmur, maka minimal 2% dari penduduk negara tersebut harus menjadi wirausahawan. Indonesia pada tahun 2015 mencatat hanya 1,65% saja dari jumlah penduduk yang terjun ke dunia wirausaha. Angka ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Singapura 7%, Malaysia 5%, dan Thailand 4%.
Untuk mengejar ketertinggalan kita dengan negara-negara tetangga, salah satu strategi untuk melakukan percepatan di bidang wirausaha adalah dengan memasukkan kewirausahaan ke dalam kurikulum pelajaran di sekolah, mulai dari pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi. Selain itu, isu kewirausahaan juga menjadi isu yang krusial di dalam literasi finansial yang sekarang ini juga sedang digelorakan oleh Gerakan Literasi Nasional (GLN) melalui gerakan literasi keluarga, gerakan literasi sekolah, dan gerakan literasi masyarakat.
Selama ini, wirausaha belum diformalkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler walaupun banyak siswa yang sudah melakukannya secara perseorangan. Oleh karena itu, pendirian klub wirausaha sebagai sebuah kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dipandang perlu dan penting untuk mengakomodir siswa yang memiliki minat ataupun mereka yang sudah melakukan wirausaha secara sederhana agar mereka dapat mengasah kemampuan wirausaha menjadi lebih baik.
Selain mendirikan klub wirausaha, sekolah juga memfasilitasi siswa dengan berbagai informasi tentang kewirausahaan, baik itu dalam bentuk bahan bacaan maupun bentuk lainnya, seperti video dan alat peraga. Penambahan koleksi perpustakaan yang terkait kewirausahaan, penambahan alat peraga, pojok baca, dan majalah dinding yang memuat informasi tentang wirausaha juga merupakan upaya menumbuhkan atmosfer wirausaha di sekolah.

Contoh Pengembangan Praktik Pelatihan Numerasi

Pelatihan penguatan kecakapan numerasi bagi guru matematika dan non-matematika
Guru matematika dilatih bagaimana memilih, membuat, dan memodifikasi permasalahan sehari-hari yang dapat digunakan di dalam pembelajaran di kelas dan untuk penilaian. Pelatihan bagi guru matematika dapat menggunakan pendekatan problem & project based learning. Sekolah dapat membuat sendiri tema pelatihan berikut durasi, metode dan indikator keberhasilan sesuai dengan kebutuhan. Contoh mengenai pelatihan dapat diakses melalui laman yang terkait dengan matematika di media virtual. Di bawah ini adalah ilustrasi model pelatihan numerasi bagi guru matematika.

Pengembangan pelatihan literasi numerasi bagi guru non Matematika
Pelatihan literasi numerasi bagi guru non Matematika juga menjadi bagian esensial dikarenakan konsep numerasi juga ditemukan di dalam pelajaran non Matematika. Guru pelajaran non Matematika perlu untuk meningkatkan kecakapan numerasi agar dapat memberikan pelajaran yang diampunya secara efektif.



Penyediaan sumber informasi dapat berupa buku, majalah, video, poster, dan alat peraga yang terkait dengan pengembangan numerasi di sekolah (kelas, perpustakaan, fasilitas sekolah, dan lingkungan sekolah).

Contoh Pengembangan Praktik Kegiatan Klub STEAM
Klub STEAM juga dapat melakukan kegiatan lain, seperti perjalanan tematik terkait dengan lima disiplin ilmu STEAM ke sejumlah tempat, seperti universitas, perpustakaan, museum, taman, galeri, dan beragam tempat yang dapat memberikan inspirasi dan motivasi untuk meningkatkan semangat dan prestasi anggota.

Contoh Pengembangan Praktik Kegiatan Klub Wirausaha
Klub wirausaha bisa mengajukan diri untuk menjadi event organizer bazaar sekolah dengan mengajukan rancangan proposal kegiatan produk apa saja yang akan dijual yang disertakan dengan durasi kegiatan, lay out, skema bagi hasil antara sekolah dan klub sebagai penyelenggara.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengembangkan Literasi Numerasi dalam Pembelajaran "

Posting Komentar