Berbagi Ilmu

Tebarkan Ilmu Walau Satu Kata
Jadilah Orang yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

IMUNISASI ALA RASULULLAH SAW

Cemas, khawatir, dan takut itulah perasaan yang dialami orang tua yang anaknya divaksinasi pasca terkuaknya peredaran vaksin palsu dalam kurun waktu 13 tahun, tidak terkecuali saya dan isteri saya. Betapa tidak anak saya yang pertama adalah “korban” vaksinasi.

Sebagai anak pertama, kami sepakat untuk memberikan yang terbaik baginya. Memberikan nama yang baik dan ASI eksklusif salah satu cara yang kami lakukan untuk tujuan itu, termasuk memberikan imunisasi secara lengkap. Tujuannya tentu agar anak kami terjaga sistem imunitasnya.

Keputusan kami memberikan imunisasi lengkap belakangan kami sesali setelah kami mengetahui proses pembuatan vaksin, terlebih saat anak kami yang pertama didiagnosa terjangkit penyakit TB anak setahun yang lalu. Kami berpikir mengapa anak kami harus terserang penyakit TB sementara kami telah memberikannya imunisasi lengkap termasuk pemberian vaksin BCG. Pertanyaan inipun pernah saya tanyakan langsung pada dokter anak yang menangani penyakit TB anakku. Jawabannya sungguh mengejutkan, “Pemberian vaksin itu tidak menjamin anak bebas dari penyakit tertentu, semuanya kembali pada kebiasaan hidup kita”. Saya kemudian berpikir mungkinkah bibit penyakit yang terkandung di dalam vaksin yang sudah dilemahkan penyebabnya? Karena sejatinya imunisasi adalah memasukan bibit penyakit yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh agar memicu tubuh mengeluarkan zat anti bodi. Entahlah. Penyesalan kami semakin menjadi setelah beberapa hari yang lalu terdengar kabar beredarnya vaksin palsu.

Untunglah anak kami yang kedua tidak kami jadikan “korban” vaksinasi. Setelah kami mengetahui proses pembuatan vaksin yang menggunakan katalisator enzim babi, kami sepakat untuk tidak memberikan vaksin kepada anak kami yang kedua. Alhamdulillah Allah SWT memberikan limpahan kasih sayang-Nya pada kami sehingga anak kami tetap sehat walau tanpa imunisasi.


Kami berpikir, mengapa orang-orang terdahulu yang tidak pernah menggunakan vaksin tapi tetap sehat. Lalu apa rahasianya? Setelah mencari-cari informasi akhirnya kami berkesimpulan bahwa pola makan dan pola hidup yang sehat menjadi salah satu faktornya. Kamipun akhirnya merilik pola imunisasi menurut Islam yang dicontohkan Rasulullah SAW. Pemberian ASI eksklusif, mentahnik anak dengan kurma, dan pemberian madu salah satunya. Loh kok bisa? Ini penjelasan ilmiahnya semoga bermanfaat.

ASI Merupakan Makanan Terbaik Bagi Bayi


Tidak diragukan lagi mengenai keunggulan ASI (Air Susu Ibu) yang merupakan makanan terbaik bagi bayi. Hampir semua kalangan, termasuk dunia kedokteran ikut menganjurkan supaya ibu lebih memilih ASI dibandingkan susu sapi atau susu formula. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan… “ (Al-Baqarah 233)

Sungguh disayangkan masih banyak ibu yang enggan menyusui bayinya, hanya karena alasan sibuk bekerja, untuk menjaga penampilan, dan alasan-alasan lain. Padahal, berbagai penelitian telah membuktikan ada banyak sekali manfaat ASI dan menyusui, baik bagi bayi maupun bagi sang ibu. Selain aman, higienis, bergizi, dan ekonomis, ASI juga mengandung zat-zat kekebalan tubuh yang tidak dimiliki oleh susu formula yang termahal sekalipun. Bahkan ketika produsen susu berlomba-lomba meniru komposisi ASI, maka tidak akan bisa menirunya dengan tepat.

Secara garis besar terdapat 2 macam kekebalan di dalam ASI, yaitu faktor kekebalan non spesifik (seperti bifidus factor, laktoferin, lisozim) dan faktor kekebalan spesifik (seperti imunoglobulin). Penjelasan singkatnya sebagai berikut :

Bifidus factor. Di dalam ASI, kadar bifidus factor 40 kali lipat lebih banyak dibanding susu sapi. Bifidus factor dalam suasana asam di dalam usus bayi akan mendorong pertumbuhan lactobasilus bifidus. Lactobasilus bifidus ini di dalam usus bayi akan mengubah laktosa yang banyak terkandung di dalam ASI menjadi asam laktat dan asam asetat, sehingga suasana usus bayi akan semakin asam. Suasana asam ini akan menghambat pertumbuhan kuman enterobacteriaceae dan Eschericia coli (E.coli) patogen, yaitu suatu jenis kuman yang paling sering menyebabkan diare pada bayi. Oleh karena itu, kuman komensal terbanyak dalam usus bayi-bayi yang mendapat ASI sejak lahir adalah bakteri bifidus. Sebaliknya, flora usus dari bayi yang mendapat susu sapi adalah kuman-kuman gram negatif (terutama bakteroides dan koliform). Maka tidak heran jika bayi yang tidak mendapat ASI lebih peka terhadap infeksi kuman patogen karena tidak adanya perlindungan seperti halnya pada bayi yang mendapat ASI.

Laktoferin. ASI mengandung laktoferin dalam kadar yang bervariasi di antara 6 mg/mL kolostrum dan tidak lebih dari 1 mg/mL di dalam ASI matur. Meskipun kadar laktoferin pada kolostrum susu sapi juga tinggi, yaitu 5mg/mL, tetapi kadar ini cepat menurun. Di dalam ASI yang matur, laktoferin selain menghambat pertumbuhan Candida albicans, juga bersama-sama (sinergistik) dengan SIgA menghambat pertumbuhan E-coli patogen.

Lisozim. Sudah lama diketahui bahwa lisozim adalah suatu substrat anti-infeksi yang sangat berguna di dalam air mata. Akhir-akhir ini terbukti bahwa di dalam ASI juga terdapat lisozim dalam kadar yang cukup tinggi (sampai 2mg/100mL), yaitu 5000 kali lebih banyak daripada susu sapi. Lisozim pada ASI ini tidak dihancurkan di dalam usus sehingga kadarnya dalam tinja masih ditemukan dalam konsentrasi yang cukup tinggi. Khasiat lisozim, bersama-sama dengan sistem komplemen dan SIgA dapat memecahkan dinding sel bakteri (bakteriolitik) dari kuman-kuman enterobacteriaceae dan kuman-kuman gram positif. Selain itu, lisozim diduga juga melindungi tubuh bayi dari berbagai infeksi virus antara lain virus herpes hominis.

Imunoglobulin. Semua macam imunoglobulin ditemukan di dalam ASI. Dengan tehnik yang baru, seperti imuno-electrophoresi, radio immune assay, elisa, dan sebagainya dapat diidentifikasi lebih dari 30 macam imunoglogulin. Delapan belas di antaranya berasal dari serum si ibu dan sisanya hanya ditemukan di dalam ASI atau kolostrum. Selain itu, imunoglobulin G dapat menembus plasenta dan berada pada konsentrasi yang cukup tinggi di dalam darah janin/ bayi sejak lahir sampai umur beberapa bulan, sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap beberapa macam penyakit.
Imunoglobulin terpenting dan terbanyak dalam darah manusia adalah IgG. Sebaliknya, di dalam ASI yang terpenting adalah IgA. IgA dianggap penting tidak hanya karena konsentrasinya yang tinggi, namun juga karena aktivitas biologiknya. Dari kelas IgA ini, yang paling dominan adah SIgA, yang kadarnya 90% dari seluruh kadar imunoglobulin di dalam kolostrum maupun ASI matur. Diduga fungsi utama dari SIgA adalah mencegah melekatnya kuman-kuman patogen pada dinding mukosa usus halus. Selain itu, SIgA juga diduga dapat menghambat proliferasi kuman-kuman tersebut di dalam usus, meskipun tidak sampai membunuhnya. Kadar imunoglobulin di dalam payudara kiri dan kanan adalah sama dan kadar ini juga konstan di dalam ASI. Kadar ini selalu sama baik pada permulaan laktasi (menyusui) maupun pada akhir laktasi dan juga konstan tiap 24 jamnya.

Tahnik Anak saat Lahir dengan Buah Kurma

Tahnik merupakan sunnah Rasulullahshallalahu ‘alaihi wa salam. Tahnik itu berasal dari kata hanak (حنك), hanak itu artinya langit-langit mulut yang merupakan kegiatan menaruh kurma yang telah dikunyah atau di haluskan dilangit langit bayi. sunnah yang sederhana ini, ternyata menyimpan  keistimewaan yang luar biasa bagi masa depan generasi peradaban. Karena para Dokter telah membuktikan bahwa semua anak kecil ( terutama yang baru lahir dan menyusu) terancam kematian, kalau terjadi salah satu dari dua hal ; Jika kekurangan jumlah gula dalam darah (karena kelaparan) dan jika suhu badannya menurun ketika terkena udara dingin di sekelilingnya.

Hasil uji aktivitas antimikroba menunjukkan bahwa pengujian dengan menggunakan ekstrak n-heksana buah Kurma Cina tidak  memberikan daerah hambat terhadap kedua bakteri, fraksi kloroform juga kurang memberikan daerah hambat yang memuaskan. Sedangkan ekstrak etanol buah Kurma Cina memberikan daerah hambat yang memuaskan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis, dengan konsentrasi yang berbeda-beda.

Kurma memiliki potensi sebagai antimikroba karena berdasarkan hasil Skrining, didapatkan  hasil bahwa kurma mengandung senyawa kimia golongan alkaloida, glikosida, flavonoida, tannin, saponin dan steroida/triterpenoida. mekanisme kerjanya dengan cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut (Robinson 1991 dalam Anonim, 2011).  Sedangkan flavonoid berfungsi sebagai antibakteri dengan cara membentuk senyawa kompleks terhadap protein ekstraseluler yang mengganggu integritas membran sel bakteri (Cowan 1999 dalam Anonim, 2011).

Tanin, salah satu fitokimia dalam tumbuhan yang mengikat dan menciutkan protein (McGee 2004 dalam Anonim, 2011). Tanin memiliki aktivitas antibakteri, secara garis besar mekanisme yang diperkirakan adalah sebagai berikut : toksisitas tanin dapat merusak membran sel bakteri, senyawa astringen tanin dapat menginduksi pembentukan kompleks senyawa ikatan terhadap enzim atau substrat mikroba dan pembentukan suatu kompleks ikatan tanin terhadap ion logam yang dapat menambah daya toksisitas tanin itu sendiri. Akiyama et al., 2001 dalam Anonim 2011).  Selain itu tanin diduga dapat mengkerutkan dinding sel atau membran sel sehingga mengganggu permeabilitas sel itu sendiri. Akibat terganggunya permeabilitas sel, maka sel tersebut tidak dapat melakukan aktivitas hidup dan pertumbuhannya terhambat atau bahkan mati. Menurut Ajizah, 2004 dalam Anonim 2011)

Saponin, yang merupakan glikosida yang membentuk basa dalam air. Apabila dihidrolisis dengan asam akan menghasilkan gula dan sapogenin yang sesuai. Saponin dapat dipakai sebagai antimikroba. (Sholikhah, 2006 dalam Anonim, 2011) sedangkan Antrakuinon berperan sebagai antibiotik yang bersifat bakteriostatik. Peran bakteriostatik antrakuinon dalam lidah buaya dimungkinkan dengan cara mempengaruhi sintesis protein bakteri. Antibakteri yang bekerja dengan mempengaruhi sintesis protein digolongkan sebagai bakteriostatik, yaitu antibiotik yang mencegah pertumbuhan bakteri sehingga populasi bakteri tetap. (Fitri DN, 2005 dalam Rahayu, 2006).

Kesimpulannya adalah Kurma memiliki potensi sebagai antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Potensi kurma sebagai bahan antimikroba dikarenakan kurma mengandung senyawa kimia golongan alkaloida, glikosida, flavonoida, tannin, saponin dan steroida/triterpenoida.

Potensi Kurma sebagai bahan antimikroba menunjukkan bahwa kegiatan tahnik yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam sangat berperan dan bermanfaat dalam meningkatkan sistem imunitas bayi terhadap bakteri.

Madu

Sejak zaman dahulu kala, madu telah disebut sebagai minuman dengan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Selain menjadi minuman manis dan lezat untuk minum, madu juga memberikan banyak keuntungan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari penyembuhan penyakit, dan untuk kecantikan.

Madu adalah makanan yang mengandung aneka zat gizi seperti karbohidrat, protein, asam amino, vitamin, mineral, dekstrin, pigmen tumbuhan dan komponen aromatik. Bahkan dari hasil penelitian ahli gizi dan pangan, madu mengandung karbohidrat yang paling tinggi diantara produk ternak lainnya seperti susu, telur, daging, keju dan mentega sekitar (82,3% lebih tinggi).

Setiap 100 gram madu murni bernilai 294 kalori atau perbandingan 1000 gram madu murni setara dengan 50 butir telur ayam atau 5,675 liter susu atau 1680 gram daging. Dari hasil penelitian terbaru ternyata zat-zat atau senyawa yang ada di dalam madu sangat komplek yaitu mencapai 181 jenis.

Salah satu keunikan madu adalah karena madu mengandung zat antibiotik. Dari hasil penelitian Peter C Molan (1992), seorang peneliti dari Departement of Biological Sciences, University of Waikoto, Selandia Baru, madu terbukti mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai kuman patogen penyebab penyakit.

Selain itu juga peneliti dari Departement of Biochemistry, Faculty of Medicine, University of Malaya di Malaysia, Kamaruddin (1997) juga menyebutkan bahwa di dalam madu terkandung zat anti mikrobial, yang dapat menghambat penyakit.

Beberapa penyakit infeksi oleh berbagai patogen yang dapat dicegah dan disembuhkan dengan minum madu secara teratur diantaranya : Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), batuk, demam, penyakit luka tukak lambung, infeksi saluran pencernaan maupun penyakit kulit.

Kandungan Madu

Madu memiliki komponen kimia yang memiliki efek koligemik yakni asetilkolin. Asetilkolin berfungsi untuk melancarkan peredaran darah dan mengurango tekanan darah. Gula yang terdapat dalam madu akan terserap langsung oleh darah sehingga menghasilkan energi secara cepat bila dibandingkan dengan gula biasa.

Disamping kandungan gulanya yang tinggi (fruktosa 41,0 %; glukosa 35 %; sukrosa 1,9 %) madu juga mengandung komponen lain seperti tepung sari dan berbagai enzim pencernaan. Disamping itu madu juga mengandung berbagai vitamin seperti vitamin A, B1, B2, mineral seperti kalsium, natrium, kalium, magnesium, besi, juga garam iodine bahkan radium.

Selain itu madu juga mengandung antibiotik dan berbagai asam organic seperti asam malat, tartarat, sitrat, laklat, dan oksalat. Karena itu madu sangat tinggi sekali khasiatnya.

Demikianlah alternatif pemberian imunisasi alami ala Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat.

Sumber:
http://danusiri.dosen.unimus.ac.id/materi-kuliah/kebidanan/pandangan-islam-tentang-imunisasi/
http://www.ibudanbalita.net/268/khasiat-madu-bagi-kesehatan-ibu-hamil.html/

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "IMUNISASI ALA RASULULLAH SAW"

Post a Comment